Aku ini adalah salah satu santri terbaikmu
Walau tak pernah bertemu wajah
Hingga aku lulus dari pesantrenmu yang sederhana itu
Aku tahu benar, guru-guruku dan bilikmu yang sederhana itu
Ketika orang bergelimang harta,
Para guru yang ikhlash itu hanya digaji Rp.5000,-
Sama dengan uang sakuku nyantri selama sebulan
Tidak di Assalam tidak di Ngruki
Bapakku tidak memberikan perubahan!
Tapi engkau digambarkan seorang trilyuner
Pendana segala teror dan kekerasan
Di tengah hidupmu yang super sederhana
Kalau dengan kata-katamu yang tajam
Melebihi pedang Damaskus sekalipun
Lalu engkau dibuang
Dari dulu aku sudah tahu
Bapak-bapakku, kakek-kakekku, Pakde Paklekku
Adalah para pejuang yang terusir
Hanya karena mengacungkan jari telunjuk
Ketika shalat karena bersaksi
Bahwa tiada yang patut ditunduki dan dipatuhi
Laa Ilaaha Illallah
Karena kalimat itu ingin dipancangkan
Orang-orang beriman dibakar, digoreng, digodhog, dicincang
Aku sangat yakin kalau dirimu sangat yakin
Bahwa para nabi pun terbunuh dibunuh
Oleh satu kalimat nafyu itsbat itu
Sudah tertanam jauh di lubuk hatiku
Bahwa hanya ada satu kata perjuangan
Tiada kamus menyerah dalam menegakkan agama Allah
Tinggal ujian mendatangiku
Ujian yang selalu bersamamu
Ustadzku....
Fitnah itu memang lebih kejam dari pembunuhan
Aku berdoa untukmu, semoga kesyahidan atau kemuliaan hidup
Menjadi milikmu

0 komentar:
Poskan Komentar