Selasa, 12 Juli 2011

SUKARNYA MERUBAH INFORMATION DISPENCER

Mungki terlalu lama kita ini diperlakukan secara behavioristik di tempat yang bernama kelas. Pola stimulus respons itu, meski tidak selamanya keliru, amatlah membekas dalam diri kita. Gampangnya sudah menjadi automatic.

Kebiasaan lama menerima informasi, atau dicekoki informasi itu sedikit banyak memola benak-pikir dan olah tindakan kita sehari-hari. Bahkan lebih dari itu, membentuk cara kita memandang terhadap sesuatu. Luar biasa kan.

Tantangan berat menggubah sebuah sekolah dengan paradigma baru, menurut saya adalah di titik ini. Di paradigma berpikir guru yang akan menerapkan ide-ide pilar sekolah yang sedang saya bangun bersama istri tercinta.

Titik kritis pertama adalah di pilar adab. Selama ini yang terjadi, adab yang mestinya implemented dalam seluruh aktivitas sehari-hari di sekolah, faktanya telah menjadi materi pelajaran yang sangat tebal dan berorientasi hapalan. Ujian adab adalah ujian hapalan. Sekian hadis, begitulah biasanya.

Ta’dib di sekolah yang ingin saya bangun adalah paradigma baru yang sangat menantang. Kegersangan konsep dan praktik ta’dib di sekolah coba kuisi dengan kurikulum khusus yang bernama ta’dib adabul mufrad (sesuai nama referensinya) dengan kurikulum habituasi yang belum pernah ada di sekolah-sekolah pada umumnya. Life and implementable curriculum yang diterapkan secara kritis, peka dan dialogis. Tidak sederhana kan? Keterbatasan referensi hidup dalam masalah penerapan konsep karakter dengan Islamic-based ini akan sangat membingungkan secara praktis di dunia pendidikan. Teori dan praktik konsep ini ke depan akan sangat mahal ketika berhasil diterapkan di sekolah baru kami itu. Mimpiku, bisa untuk ongkos naik haji seluruh anak istriku. Insya Allah.

Mengubah pola pendidikan behavioristik dominan ke konstruktivistik dominan adalah isu lama yang “tidak selesai-selesai” dipraktikkan di dunia persekolahan. Dalam forum training guru, ketika saya bertanya kepada mereka, yo manthuk-manthuk paham. Tapi ketika diterapkan langsung di lapangan, sudah dua hari, kepala sekolahku melaporkan kalau praktik gurunya masih konvensional. Aku tersenyum dan sudah kutebak. Lack of theory para guru itulah penimbul “tragedi” ini. Sabar kataku, kita harus terus mengawal hingga guru-guru itu paham baik teori maupun praktik. Amat sangat menantang titik kritis kedua ini.

Sebenarnya masih ada satu titik kritis lagi di konsep sekolah yang saya bangun dan terapkan itu. Pada pilar leadership lifeskillnya. Sekolah dengan pilar leadership lifeskill ini pun bukan konsep baru. Isu ini sudah lama digugah agar diterapkan dalam dunia persekolahan. Namun sekali lagi, keindahan konsep ini kandas dalam praktiknya karena hanya diperlakukan sebagai pemanis dagangan. Bukan sebagai salah satu pilar yang mendasari konsep dan praktik pendidikan di sekolah. Akibatnya, lagi-lagi menjadi mata pelajaran yang awalnya menyenangkan, namun lambat laun bahkan dilupakan dan ditiadakan.

Kalau ada sekolah Montessori yang menggunakan secara radikal konsep-konsep Maria Montessori, maka sekolah yang saya bangun ini secara epistemologik radikal menerapkan Konstruktivisme Jean Piaget dan Lev Vigotsky dalam metodologi pengembangan kognitif maupun leadership anak. Ini pun konsep yang sangat menantang. Saya sudah pesan kepada para guru di training bahwa mereka harus menguasi wacana dan hasil-hasil penelitian dari konsep ini. Kalau tidak, maka secara metodologik akan miss-conception. Berat nantinya.

Saya katakan kepada istri saya yang menjabat sebagai kepala sekolah itu, setiap malam kita harus berdialog membahas tiap detail perkembangan, terutama perkembangan guru. Hasilnya akan digunakan sebagai basis pembuat keputusan untuk mengolah sosok guru yang telah direkrut itu. Diolah sepanjang waktu tanpa henti.

Tugas berat kepala sekolah adalah merubah gaya information dispencer (pencekok informasi) menjadi seorang pembangun pengetahuan murid-muridnya. Ini mudah ditulis, tapi la hawla wala quwwata illa billah, super menantang. Dalam training saya sudah memberikan “hints” untuk melihat, apakah yang dilakukan oleh guru dalam interaksi edukatif itu tepat atau keliru, bahkan benar atau salah.

Sejak awal kami sudah bersepakat, bahwa sekolah yang kita bangun adalah merupakan salah satu bagian dari masalah pendidikan di Indonesia. Sudah sepakat sejak awal bahwa kurikulum sekolah yang akan kita disain adalah kurikulum yang sarat praktik, bukan sarat materi. Seperti apa wujudnya, dalam benak mimpi kami, semua itu sangat jelas. Tantangan utamanya adalah, memperjelasnya dalam praktik nyata pendidikan. Pendidikan yang berbasis alam, pendidikan yang kampusnya seluas semesta, pendidikan yang tidak memiliki kelas kecuali hanya untuk “berteduh” saja.

Mudah-mudahan Allah memudahkan mimpi-mimpi kami. Membuat di setiap kecamatan di Kabupaten Banyumas, ada berdiri satu sekolah yang menerapkan konsep kami. Allahumma yassir wala tu’assir. Wallahu a’lam.

0 komentar:

Poskan Komentar